Jumat 5 Juni 2026 - 13:28
Pemimpin Besar Revolusi: Khomeini Agung dan Khamenei Syahid telah Membangkitkan Kembali Kesiapan Bangsa

Hawzah/ Yang Mulia Ayatullah Sayyid Mujtaba Hosseini Khamenei berkata: Khomeini Agung dan Khamenei syahid telah menemukan dan membangkitkan kembali kesiapan bangsa.

Berita Hawzah – Pesan Yang Mulia Ayatullah Sayyid Mujtaba Hosseini Khamenei, Pemimpin Besar Revolusi Islam, dalam rangka Idul Ghadir dan peringatan ke-37 wafatnya Imam Khomeini (ra), serta peringatan dimulainya kepemimpinan Ayatullah Syahid Sayyid Ali Khamenei, Kamis pagi dibacakan di makam Imam oleh Hujjatul Islam Muhammad Jawad Haj Ali Akbari.

Teks lengkap pesan tersebut adalah sebagai berikut:

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan kesempurnaan agama-Nya dan penyempurnaan nikmat-Nya melalui wilayah (kepemimpinan) Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib (as).

Saya mengucapkan selamat Idul Ghadir yang penuh berkah kepada seluruh kaum Muslimin dan para pecinta bapak umat Islam, Amirul Mukminin Ali (as) di Iran dan di seluruh dunia, serta menyampaikan salam dan penghormatan kepada ruh suci Imam Khomeini (ra).

Tahun ini adalah 14 Khordad ke-37 sejak perpisahan dengan Khomeini Agung, dan merupakan 14 Khordad pertama ketika bapak penyayang umat, murid dan sahabat setia serta terkemuka dari mazhab Imam, pemimpin agung dan syahid Revolusi Islam, Ayatullah al-Uzma Sayyid Ali Khamenei (semoga Allah meninggikan derajatnya), telah menjadi tamu dalam jamuan Ilahi dan gema suara tegas serta kata-kata bijak dan penuh pengaruhnya tidak lagi terdengar di makam suci Imam. Namun, keseluruhan pidato dan tulisan sepuluh tahun pendiri Republik Islam serta tiga puluh enam tahun pemimpin agung yang syahid itu merupakan khazanah yang sangat berharga dan tiada banding bagi kita semua serta pelita penunjuk jalan masa depan.

Pertama, hari ini adalah Idul Ghadir dan ‘Idullah al-Akbar (Hari Raya Allah yang Terbesar); hari perjanjian yang telah dijanjikan dan ikrar yang telah diambil, di mana Allah telah menetapkan tugas pengelolaan masyarakat dan sistem Islam serta menyempurnakan agama dan melengkapi nikmat melalui wilayah dan imamah yang berkesinambungan dari para maksum (as).

Ghadir mengingatkan kita kepada sosok yang setiap detik kehidupannya yang mulia—sejak kelahirannya di Ka’bah hingga meraih kemenangan syahadah—adalah untuk Allah dan di jalan Allah. Oleh karena itu, beliau setelah keberadaan mulia Rasulullah  (saww), dalam seluruh fase kehidupan dan bagi seluruh kaum Muslimin dan Mukminin, merupakan teladan tertinggi dan contoh yang menyeluruh. Sudah sepantasnya, dari anak kecil hingga orang tua, dari masyarakat biasa hingga para elite dan pemimpin, meneladani beliau; sebagaimana kebanggaan hidup dua Imam Revolusi juga adalah keteladanan kepada sosok agung tersebut.

Kedua, hari ini (4 Juni) adalah peringatan wafat Imam umat (ra) dan kesempatan berharga untuk merenung dan berdialog tentang sosok yang terkenal namun kurang dikenal ini. Pribadi yang penuh daya tarik, yang pemahaman dan pengenalan mendalam terhadap jalan dan tujuan cemerlangnya merupakan pelita bagi masa depan Iran Islam. Namun banyak dari generasi muda bangsa ini tidak berkesempatan mengenal beliau secara langsung, bahkan banyak dari mereka yang hidup pada masa beliau pun belum sampai pada kedalaman kepribadian dan garis perjuangan Imam.

Allah Ta‘ala berfirman: “Katakanlah, sesungguhnya aku hanya menasihati kamu dengan satu hal, yaitu agar kamu bangkit karena Allah, berdua-dua atau sendiri-sendiri.” Dalam ayat mulia ini, Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi berfirman kepada Rasulullah (saww) agar menyampaikan kepada umat: aku hanya menasihati kalian dengan satu perkara, yaitu bangkitlah karena Allah, dua-dua atau masing-masing sendiri.

Ayat ini merupakan pembuka pesan pertama dan salah satu dokumen tertua di mana hamba saleh yang tiada banding dan ruh agung zaman kita, Pemimpin Besar Revolusi dan pendiri Republik Islam, mengajak bangsa Iran untuk bangkit karena Allah. Ya, kebangkitan karena Allah (qiyam lillah) adalah fondasi mazhab Imam, dan di antara dampak serta berkah terpenting dari keberadaan beliau adalah bimbingan, pembinaan, dan pengaruh luar biasa terhadap masyarakat berdasarkan prinsip ini. Gerakan Ilahi inilah yang menjadi sebab turunnya keberkahan dan perhatian Rabbani serta berjalannya sunnah Tuhan Yang Maha Tinggi dalam membimbing masyarakat menuju jalan kebenaran: “Dan orang-orang yang berjihad di jalan Kami, niscaya akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.”

Bukankah gerakan-gerakan besar dan kebangkitan menyeluruh bangsa Iran yang paling penting terjadi pada masa Khomeini Agung dan Khamenei Syahid yang agung, serta berlangsung dengan bimbingan langsung atau tidak langsung dari mereka? Kekuatan besar manakah yang mampu membangunkan bangsa yang tertidur dan terpesona oleh kesombongan dan kolonialisme, pada saat penutupan ruang gerak, penindasan, dan ketergantungan menyeluruh kepada Barat sedang berkuasa, pada 15 Khordad 1342 (5 Juni 1963)? Daya tarik manakah yang mampu menarik jutaan orang ke jalan-jalan pada 12 Bahman 1357 (1 Februari 1979) untuk menyambut, dan pada 14 Khordad 1368 (4 Juni 1989) untuk mengantarkan kepergian Imam umat? Dan dalam contoh menakjubkan terakhir, kekuatan kokoh dan kehendak baja manakah yang sejak dini hari 10 Esfand 1404 telah membangkitkan bangsa Iran sedemikian rupa dan membawanya ke medan, sehingga dengan motivasi luhur, lebih dari tiga bulan kemudian mereka tetap bersemangat menuntut darah pemimpin mereka yang syahid dan para syuhada lainnya yang gugur, serta menjaga kehormatan sistem Islam dan tanah air tercinta mereka, hadir di medan perjuangan dan memperkokoh barisan puluhan juta jiwa yang siap berkorban demi terwujudnya cita-cita pemimpin syahid dan penegakan kebenaran serta kebangkitan karena Allah?

Ya, Khomeini Agung dan Khamenei syahidlah yang menemukan dan membangkitkan potensi serta kesiapan dalam bangsa Iran yang tercinta ini, dan senantiasa memberikan penghargaan khusus terhadapnya. Imam yang mulia, yang tanpa ragu dengan ketakwaannya yang luar biasa menjaga setiap kata yang tertulis dari penanya, dalam wasiatnya mengemukakan sebuah pernyataan besar dan menuliskan: “Dengan berani saya menyatakan bahwa bangsa Iran dan jutaan rakyatnya pada masa kini lebih baik daripada bangsa Hijaz pada masa Rasulullah (saww), serta Kufah dan Irak pada masa Amirul Mukminin dan Husain bin Ali (as).”

Hari ini seluruh bangsa yang mulia merasa bangga bahwa dengan kebangkitan baru mereka di samping front perlawanan, mereka telah menjadi sumber kebanggaan di hadapan mata yang sadar dan bangsa-bangsa merdeka di dunia, serta kembali menampakkan kebenaran bagian wasiat Imam Khomeini tersebut. Menurut ungkapan pemimpin syahid (semoga Allah meninggikan derajatnya), tangan kuat yang mampu menggelorakan samudra besar bangsa itu adalah pribadi baja, hati yang teguh, dan lisan bak Zulfiqar dari Imam besar dan Khomeini yang agung, yang mampu memasukkan jutaan manusia ke medan, mempertahankan mereka di dalamnya, dan mengajarkan arah gerakan kepada mereka.

Dan tentu saja contoh lain dari pengaruh semacam ini adalah Khamenei yang tercinta sendiri, yang melangkah di jalan pendahulunya yang saleh dan selama hampir empat dekade memimpin Revolusi dan sistem Islam, dengan kepercayaan kepada kaum muda serta memperdalam dan meningkatkan tingkat wawasan dan cara pandang masyarakat, telah membawa masyarakat kepada tingkat kesiapan sedemikian rupa sehingga setelah peristiwa agung kesyahidannya, suatu babak baru kebangkitan bangsa Iran pun terbentuk.

Ya, mazhab Khamenei yang tercinta adalah mazhab Khomeini Agung dalam kelanjutan Islam Muhammad yang murni (saww), yang fondasinya adalah kebangkitan karena Allah; dan para murid mazhab ini, berbaris rapi, siap menegakkan kebenaran, melenyapkan kebatilan, dan berjihad di jalan yang bercahaya ini. Imam (ra) adalah pencipta transformasi besar dan bersejarah di tingkat Iran, umat Islam, dan dunia, yang pemimpin syahid (ra) telah memperdalam, memperluas, dan melestarikannya, serta melakukan pembentukan sistem dan pembangunan masyarakat demi penyempurnaan dan realisasinya.

Dalam kerangka ini pula, beliau selain menghidupkan mazhab Imam melalui ucapan, tulisan, dan tindakan serta dalam berbagai pertemuan, menjadikan 14 Khordad sebagai momentum tahunan perjanjian setia bangsa dengan Imam Khomeini, serta menjelaskan dan menegaskan suatu rangkaian prinsip, kebijakan, dan garis-garis mazhab Imam.

Di antara sebagian ajaran yang kerap diulang adalah bahwa bangsa Iran adalah bangsa yang beriman, cerdas, dan berani; bahwa rakyat adalah pemilik sejati negara dan sumber kekuatannya; bahwa rakyat ini mampu mewujudkan setiap perubahan yang benar yang mereka tekuni serta merealisasikan slogan “Kami Bisa” dalam berbagai bidang. Di antara ajaran lainnya adalah keharusan membela kaum tertindas sebagai kewajiban Islam, kemanusiaan, dan kebangsaan Iran; serta bahwa sistem hegemoni—dengan Amerika di puncaknya—memiliki masalah dengan bangsa ini, identitasnya yang istimewa, dan sikapnya yang tidak mau tunduk.

Ya, sistem hegemoni yang telah membangun sebuah garnisun bernama Israel sejak hampir delapan puluh tahun lalu, tidak menerima keberadaan Iran yang kuat, mandiri, dan memiliki berbagai keunggulan di perbatasan timur dari geografi kosong dan palsu yang disebut “Israel Raya”, yakni di sebelah timur Efrat, dan tidak pernah lalai melakukan berbagai upaya untuk mencegah kemajuannya.

Dalam kesempatan ini saya sampaikan kepada bangsa tercinta: musuh yang jahat, setelah mengalami kekalahan dalam konfrontasi dengan putra-putra gagah berani Anda di angkatan bersenjata—terutama karena menghadapi pukulan tegas, baik dalam pertempuran militer maupun di medan dan jalanan—kini merasakan penghinaan yang bermakna dan mendalam, yang akibatnya menyebabkan terjadinya jarak nyata sejumlah negara darinya. Oleh karena itu ia memusatkan tipu dayanya dalam perang gabungan pada dua titik: pertama, ketahanan rakyat; kedua, menciptakan kesalahan dalam sistem perhitungan para pejabat negara. Alat utamanya dalam kedua hal ini adalah menanam benih keraguan, keputusasaan, ketakutan, prasangka, dan perpecahan.

Karena itu, dalam menghadapi niat jahat ini, seluruh pihak harus dengan keteguhan, kejernihan pandangan, menjaga persatuan dan kohesi, saling percaya, serta tidak seirama dengan musuh, menggagalkan rencana jahatnya. Dalam hal ini, peran para pejabat dalam mendukung hal-hal tersebut sangatlah penting. Setiap tindakan yang menimbulkan prasangka buruk dan kekecewaan di kalangan rakyat pada hakikatnya merupakan bentuk bantuan kepada musuh negeri dan rakyat ini.

Kini terbuka peluang baru untuk memperkenalkan secara nyata dan mewujudkan mazhab Khomeini Agung dan Khamenei syahid tercinta sebagai para pemimpin Revolusi Islam yang terzalimi namun berwibawa dan, tentu saja, pemenang, di seluruh dunia. Peran penting ini berada di pundak seluruh rakyat, khususnya generasi muda, kaum cendekia, serta para pemikir dan insan seni, agar berdasarkan mazhab ini, dengan kepercayaan pada janji-janji Allah, di bawah naungan perhatian junjungan kita—semoga Allah mempercepat kemunculan beliau—dan di jalan Islam Muhammad yang murni, yakni garis bercahaya yang digariskan selama dua ratus lima puluh tahun masa kehadiran para pemilik kemaksuman dan wilayah agung (as), membangun masa depan cerah bagi Iran tercinta.

Saya memohon kepada Allah Yang Mahakuasa agar menganugerahkan bangsa yang telah dibangkitkan ini kemenangan akhir dan puncak-puncak kemajuan serta keagungan yang gemilang; menghimpunkan ruh suci dua Imam Revolusi dan arwah suci para syuhada Revolusi Islam, khususnya para syuhada Pertahanan Suci kedua dan ketiga, bersama junjungan mereka Amirul Mukminin Ali (as); serta menjadikan hati suci dan bercahaya junjungan kita, Imam Mahdi, ridha terhadap bangsa Iran, dan menganugerahkan kepada bangsa tercinta ini serta para pelayannya doa-doa khusus dan syafaat beliau—dengan anugerah dan kemurahan-Nya.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Sayyid Mujtaba Hosseini Khamenei
14 Khordad 1405 (4 Juni 2026)

Tagar

Komentar Anda

You are replying to: .
captcha